Monday, June 19, 2017

Senyum Prof Kamal Amir saat Sambut Jenazah Istri dan Anak Tercinta yang Tewas Kecelakaan



Prof Dr Kamal Amir (52) tersenyum saat menyambut jenazah istrinya, Hamsiah (42) dan putrinya, Indira (14)   di rumah duka, kompleks perumahan Bumi Permata Sudiang blok G2 nomor 1, Jalan Perintis Kemerdekaan, Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (18/6/2017) malam.

Istri dan putri Kamal, Ketua Jurusan Matematika pada Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin tewas saat kecelakaan maut di Jalan Tol Ir Sutami/Jalan Tol Seksi Empat, Kecamatan Biringkanaya, Makassar, Minggu pukul 15.15 Wita.

Tampak, Kamal berderai air mata, namun dia tak mampu berbicara.

Saat bersamaan, senyumnya merekah.

Ekspresi itu seolah menunjukan bahwa dia mampu menghadapi musibah secara tegar.

Ketua RW 10, Kelurahan Sudiang, AKP Ahmad Al Qadri mengatakan, peristiwa kecelakaan terjadi saat mobil melaju ke arah bandara.

"Saat itu mereka dari arah kota menuju bandara. Katanya, baru selesai belanja di mal, Pak Prof Kamal buru-buru karena mau menjemput keluarga yang sudah ada di bandara dari Gorontalo," katanya.

Disebutkan, saat mengemudikan mobil MPV merek Toyota Kijang Innova warna silver, Kamal dalam keadaan mengantuk.(Surya/Hanif Manshuri)




Lalu, tiba-tiba kaget saat melihat truk terparkir di tepi Jalan Tol Sutami karena pecah ban.

Dalam kecepatan tinggi, mobil milik Kamal pun menyeruduk truk tersebut.

"Pak Prof dalam keadaan mengantuk, beliau buru-buru tapi beliau kaget saat melihat truk tronton di tepi jalan karena pecah bannya. Jadi langsung Pak Prof menabrak truk itu," kata Ahmad.

Dalam kecelakaan itu, Hamsiah tewas di tempat.

Sementara, dua anaknya, Pratiwi dan Indira sempat dilarikan ke RS Sayang Rakyat, rumah sakit terdekat dari lokasi kecelakaan.

Namun, beberapa menit kemudian, nyawa Indira tidak tertolong.

Minggu malam, rumah duka disesaki pelayat yang ingin melihat almarhumah untuk kali terakhir.

"Pak kamal dan almarhumah itu dikenal baik di lingkungan. Beliau sangat aktif sebagai pembina di Masjid Babussalam. Kalau almarhumah (Hamsiah) itu aktif pada majelis taklim di komplek," kata Ahmad.

Rencananya, almarhumah akan dimakamkan pada Senin (19/6/2017) siang ini di Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat atau kampung halamannya.

Khusnul Khatimah



Lalu, apakah orang yang meninggal dalam bulan Ramadan akan khusnul khatimah?

Berikut penjelasan anggota Dewan Pembina Konsultasisyariah.com, Ustadz Ammi Nur Baits.

Allah mengajarkan prinsip kepada manusia bahwa sebab mereka masuk surga adalah amal.

Seringkali Allah menyebut penjelasan, kalian masuk surga karena amal yang kalian kerjakan.

Di antaranya, firman Allah, "Itulah surga yang diberikan kepada kalian disebabkan amal yang telah kalian kerjakan.” (QS Az Zukhruf: 72)

Allah juga berfirman, “Mereka dipanggil,  'ltulah surga yang diberikan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS Al A’raf 43).

Dan masih banyak ayat yang semisal dengan ini.

Karena itu, waktu yang mulia maupun tempat yang mulia, tidak bisa menyebabkan penghuninya jadi mulia.

Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan antara Abu Darda dengan Salman al-Farisi Radhiyallahu ‘anhuma. Sehingga keduanya ibarat keluarga dekat.

Imam Malik membawakan riwayat dari Yahya bin Said, bahwa Abu Darda pernah menulis surat kepada Salman, yang isinya meminta Salman untuk pindah dan tinggal di tanah yang disucikan (negeri Syam).


Kemudian Salman membalas surat ini dengan mengatakan, “Sesungguhnya tanah suci itu tidak mensucikan siapapun. Yang bisa mensucikan seseorang adalah amalnya.” (al-Muwatha’, Imam Malik, nomor 1464).

Dulu Mekkah dihuni orang musyrikin.

Ketika mereka tinggal di sana, bukan berarti mereka menjadi lebih suci.

Dan ketika meninggal menjadi husnul khatimah.

Yang meninggal pada bulan Ramadan, tidak semuanya orang baik.

Ada juga orang jahat yang meninggal di bulan berkah ini.

Meskipun demikian, kita tidak menyebut, dia meninggal secara baik.

Meninggal Dalam Kondisi Puasa

eda antara meninggal pada bulan Ramadan dengan meninggal ketika sedang puasa.

Karena meninggal dalam kondisi sedang beramal saleh, termasuk khusnul khatimah.

Termasuk meninggal ketika sedang menjalankan ibadah puasa.

Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullahi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang orang yang meninggal dalam kondisi beramal, "Siapa yang menyatakan Laa ilaaha illallah ikhlas mengharap wajah Allah, dan dia akhiri hidupnya dengan ikrar ini, maka dia masuk surga."

"Siapa yang berpuasa dengan ikhlas mengharap wajah Allah, dan dia akhiri hidupnya dengan puasa ini, maka dia masuk surga."

"Siapa yang sedekah dengan ikhlas mengharap wajah Allah, dan dia akhiri hidupnya dengan sedekah ini, maka dia masuk surga." (HR Ahmad 23324 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Lain Halnya dengan Meninggal pada Hari Jumat

Meninggal pada hari Jumat, memiliki keistimewaan khusus, mengingat adanya jaminan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak akan ditanya di alam kubur.

Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Setiap muslim yang meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat, maka Allah akan memberikan perlindungan baginya dari fitnah kubur." (HR Ahmad 6739, Turmudzi 1074 dan dihasankan al-Albani).

Sementara kita tidak menjumpai dalil yang menyatakan bahwa meninggal ketika bulan Ramadan, termasuk khusnul khatimah atau mendapat jaminan tertentu

No comments:

Post a Comment