Johnny Depp dan Dwayne ’’The Rock’’ Johnson adalah jaminan laku.
Setidaknya, itulah yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Namun,
premis tersebut, tampaknya, tak berlaku untuk dua film yang mereka
bintangi saat ini, Pirates of the Caribbean: Dead Men Tell No Tales
(Salazar’s Revenge) dan Baywatch.
Dua film yang diputar pada akhir pekan Memorial Day itu sama-sama meraih pendapatan kurang memuaskan. Pirates bernasib lebih baik. Sebab, sebagai bagian dari franchise besar, film yang digarap Joachim Ronning dan Espen Sandberg tersebut sudah punya basis fans yang kuat. Di Amerika Utara, installment kelima Pirates of the Caribbean itu meraup USD 62,8 juta (Rp 828,3 miliar), sedangkan di luar negeri mencapai USD 208,4 juta atau Rp2,773 triliun.
Angkanya tampak banyak. Tapi, itu adalah pendapatan opening weekend terendah dari seluruh franchise. Yang terendah adalah seri pertama, The Curse of the Black Pearl, sebelum franchise itu dikenal sangat luas. Namun, petinggi Disney, tampaknya, masih santai-santai saja. Apalagi, pendapatan internasional masih memuaskan.
’’Ini tren yang sering kita lihat dalam film-film jenis ini,’’ kata Dave Hollis, wakil presiden distribusi Disney, kepada The New York Times. ’’Pirates adalah film dengan skala sangat besar, dilihat dari bintangnya, aksinya, dan ceritanya. Audiens internasional akan terus nonton. Tapi, respons penonton domestik juga cukup menjadi sinyal buat kami,’’ paparnya.
Apakah itu tanda-tanda franchise yang dimulai pada 2003 tersebut mendekati titik akhir? Well, sejatinya Salazar’s Revenge memang dipasarkan sebagai film terakhir dari kisah Jack Sparrow. Namun, taktik dagang itu pernah dipakai saat merilis At World’s End. Ceritanya memang berakhir. Namun, pada 2011, tergoda pemasukan yang lebih besar, Disney tiba-tiba merilis film keempat On Stranger Tides.
Bagaimanapun, Pirates (dan Depp) masih patut bersyukur, film mereka tak tenggelam sedalam Baywatch. Meski dibintangi aktor termahal saat ini, film yang terinspirasi dari serial TV era ’90-an tersebut gagal total. Arahan Seth Gordon itu hanya meraup USD 18,1 juta (Rp 240,9 miliar) pada akhir pekan perdananya di Amerika Utara. Angka itu diperkirakan hanya naik sedikit ketika Memorial Day berakhir pada Senin (29/5), yakni hanya USD 22 juta (Rp 292,8 miliar).
Paramount tercengang. ’’Kurasa, kami benar-benar dihajar review. Sebab, di riset pratayang, respons penonton amat bagus,’’ papar kepala distribusi rumah produksi tersebut, Megan Colligan. Di situs review, rapor Baywatch memprihatinkan. Yakni 37 persen dari Metacritic dan 5,6 poin dari IMDb. Penilaian dari Rotten Tomatoes lebih sadis, hanya 19 persen dari total 128 ulasan. Cuma CinemaScore yang berbaik hati memberikan nilai B+.
Studio pun mengatur strategi. Mereka memprioritaskan pasar mancanegara. Para bintang Baywatch pun dikirim untuk mempromosikan proyek tersebut. ’’Kami berharap hasilnya bisa mendongkrak pendapatan film,’’ kata Colligan. Di mancanegara, pendapatannya belum bisa diprediksi. Sebab, film tersebut baru diputar di tujuh negara. Sejauh ini, Baywatch baru meraup USD 873 ribu (Rp 11,6 miliar) di luar Amerika Utara.
Wajar rumah produksi yang baru berganti CEO pada Maret lalu tersebut habis-habisan demi Baywatch. Sebab, film yang mengisahkan para penjaga pantai Los Angeles itu diplot menjadi penyelamat Paramount. Tahun ini studio tersebut sudah gagal lewat Ghost in the Shell, remake Rings, XXX: The Return of Xander Cage, dan Monster Trucks.
Sadar filmnya dikritik habis, The Rock pun angkat bicara lewat Twitter-nya. ’’Oh boy, para kritikus punya racun dan pisau yang selalu siap sedia. Fans CINTA filmnya,’’ tegasnya. Mantan pegulat profesional itu menjelaskan, banyak kritikus yang memberikan komentar tidak sesuai dengan apa yang mereka rasakan. ’’(Saat nonton) mereka ngakak, tetapi memutuskan untuk menjelek-jelekkan filmnya pada publik,’’ ungkap The Rock.
Di daftar box office akhir pekan, Baywatch bahkan kalah oleh Guardians of the Galaxy Vol. 2 yang sudah masuk pekan keempat. Film milik anak Disney, Marvel Studios, itu meraih USD 19,9 juta (Rp 264,9 miliar). Harapan Baywatch mendongkrak pendapatan di Amerika Utara bakal makin sulit. Sebab, Jumat waktu setempat (2/6), ada lawan yang mengerikan: Wonder Woman.
Dua film yang diputar pada akhir pekan Memorial Day itu sama-sama meraih pendapatan kurang memuaskan. Pirates bernasib lebih baik. Sebab, sebagai bagian dari franchise besar, film yang digarap Joachim Ronning dan Espen Sandberg tersebut sudah punya basis fans yang kuat. Di Amerika Utara, installment kelima Pirates of the Caribbean itu meraup USD 62,8 juta (Rp 828,3 miliar), sedangkan di luar negeri mencapai USD 208,4 juta atau Rp2,773 triliun.
Angkanya tampak banyak. Tapi, itu adalah pendapatan opening weekend terendah dari seluruh franchise. Yang terendah adalah seri pertama, The Curse of the Black Pearl, sebelum franchise itu dikenal sangat luas. Namun, petinggi Disney, tampaknya, masih santai-santai saja. Apalagi, pendapatan internasional masih memuaskan.
’’Ini tren yang sering kita lihat dalam film-film jenis ini,’’ kata Dave Hollis, wakil presiden distribusi Disney, kepada The New York Times. ’’Pirates adalah film dengan skala sangat besar, dilihat dari bintangnya, aksinya, dan ceritanya. Audiens internasional akan terus nonton. Tapi, respons penonton domestik juga cukup menjadi sinyal buat kami,’’ paparnya.
Apakah itu tanda-tanda franchise yang dimulai pada 2003 tersebut mendekati titik akhir? Well, sejatinya Salazar’s Revenge memang dipasarkan sebagai film terakhir dari kisah Jack Sparrow. Namun, taktik dagang itu pernah dipakai saat merilis At World’s End. Ceritanya memang berakhir. Namun, pada 2011, tergoda pemasukan yang lebih besar, Disney tiba-tiba merilis film keempat On Stranger Tides.
Bagaimanapun, Pirates (dan Depp) masih patut bersyukur, film mereka tak tenggelam sedalam Baywatch. Meski dibintangi aktor termahal saat ini, film yang terinspirasi dari serial TV era ’90-an tersebut gagal total. Arahan Seth Gordon itu hanya meraup USD 18,1 juta (Rp 240,9 miliar) pada akhir pekan perdananya di Amerika Utara. Angka itu diperkirakan hanya naik sedikit ketika Memorial Day berakhir pada Senin (29/5), yakni hanya USD 22 juta (Rp 292,8 miliar).
Paramount tercengang. ’’Kurasa, kami benar-benar dihajar review. Sebab, di riset pratayang, respons penonton amat bagus,’’ papar kepala distribusi rumah produksi tersebut, Megan Colligan. Di situs review, rapor Baywatch memprihatinkan. Yakni 37 persen dari Metacritic dan 5,6 poin dari IMDb. Penilaian dari Rotten Tomatoes lebih sadis, hanya 19 persen dari total 128 ulasan. Cuma CinemaScore yang berbaik hati memberikan nilai B+.
Studio pun mengatur strategi. Mereka memprioritaskan pasar mancanegara. Para bintang Baywatch pun dikirim untuk mempromosikan proyek tersebut. ’’Kami berharap hasilnya bisa mendongkrak pendapatan film,’’ kata Colligan. Di mancanegara, pendapatannya belum bisa diprediksi. Sebab, film tersebut baru diputar di tujuh negara. Sejauh ini, Baywatch baru meraup USD 873 ribu (Rp 11,6 miliar) di luar Amerika Utara.
Wajar rumah produksi yang baru berganti CEO pada Maret lalu tersebut habis-habisan demi Baywatch. Sebab, film yang mengisahkan para penjaga pantai Los Angeles itu diplot menjadi penyelamat Paramount. Tahun ini studio tersebut sudah gagal lewat Ghost in the Shell, remake Rings, XXX: The Return of Xander Cage, dan Monster Trucks.
Sadar filmnya dikritik habis, The Rock pun angkat bicara lewat Twitter-nya. ’’Oh boy, para kritikus punya racun dan pisau yang selalu siap sedia. Fans CINTA filmnya,’’ tegasnya. Mantan pegulat profesional itu menjelaskan, banyak kritikus yang memberikan komentar tidak sesuai dengan apa yang mereka rasakan. ’’(Saat nonton) mereka ngakak, tetapi memutuskan untuk menjelek-jelekkan filmnya pada publik,’’ ungkap The Rock.
Di daftar box office akhir pekan, Baywatch bahkan kalah oleh Guardians of the Galaxy Vol. 2 yang sudah masuk pekan keempat. Film milik anak Disney, Marvel Studios, itu meraih USD 19,9 juta (Rp 264,9 miliar). Harapan Baywatch mendongkrak pendapatan di Amerika Utara bakal makin sulit. Sebab, Jumat waktu setempat (2/6), ada lawan yang mengerikan: Wonder Woman.

No comments:
Post a Comment