Sempat kabur lebih kurang 10 jam
lamanya. AR (50) alias Daeng hanya bisa pasrah dikeler tim buru sergap
(buser) Polres Gorontalo Kota, Selasa (23/5) malam pukul 23.00 wita.
Warga Kelurahan Dembe II, Kecamatan Kota Utara, Kota Gorontalo itu
diciduk saat bersembunyi di rumah salah seorang kerabatnya di Kecamatan
Marisa, Pohuwato.
Daeng diburu tim buser Polres Gorontalo
Kota lantaran melarikan diri setelah membacok Hadijah Suaiba (40) alias
Tetin warga Kelurahan Dembe II, Kecamatan Kota Utara, Kota Gorontalo.
Lelaki bertubuh tinggi kurus itu nekat membacok Tetin karena emosi.
Pemicunya, Daeng mengaku terus didesak dan diteror oleh Tetin.
Kepada Gorontalo Post, pria asal
Sulawesi Selatan (Sulsel) itu mengakui bila antara dirinya dan Tetin
memiliki hubungan asmara. “Saya tahu dia (Tetin,red) masih ada suami.
Tapi kami memang saling suka,” ujar pria berkumis tipis itu.
Daeng mengaku merantau ke Gorontalo pada
1998 silam. Kala itu dari daerah Sulsel dia datang ke Marisa. Setibanya
di Marisa dia menjalani pekerjaan sebagai penjual ikan. Beberapa bulan
kemudian, Daeng banting setir. Ia memilih bekerja sebagai pengelola
tambak di wilayah Randangan, Pohuwato.
Pada 2014, pria berkulit sawo matang itu
memutuskan membina rumah tangga. Ia mempersunting seorang perempuan
yang berdomisili di Kota Gorontalo. Setelah menikah, Daeng berpindah
tempat tinggal. Dari Pohuwato ke Kelurahan Dembe II, Kecamatan Kota
Utara, Kota Gorontalo.
“Saya pindah ke kota kemudian berjualan
di pasar sore (Pasar Dembe II,red),” ungkap Daeng. Di pasar Dembe II,
Daeng yang berjualan ayam potong dan telur bertemu dengan Tetin yang
juga berjualan kue. Awalnya, antara Daeng dan Tetin hanya saling tegur
sapa sebagai sesama pedagang. Lama-lama kelamaan keduanya makin akrab.
Pengakuan Daeng, ketika hubungan dirinya
dan Tetin makin terjalin erat, dirinya mulai merasa tak nyaman. Tetin,
kata Daeng, mulai mendesak untuk dinikahi. Namun yang membuat Daeng
kalap mata ketika desakan itu tak hanya ditujukan kepada dirinya saja,
tetapi juga kepada sang istri.
“Istri saya sering di sms pak, dia
(Korban,red) meminta saya untuk segera menikahinya,” tegasnya. Puncaknya
menurut Daeng terjadi sehari sebelum kejadian. Saat itu korban
mengirimkan SMS ke handphone milik istri Daeng.
Pada 2014, pria berkulit sawo matang itu
memutuskan membina rumah tangga. Ia mempersunting seorang perempuan
yang berdomisili di Kota Gorontalo. Setelah menikah, Daeng berpindah
tempat tinggal. Dari Pohuwato ke Kelurahan Dembe II, Kecamatan Kota
Utara, Kota Gorontalo.
“Saya pindah ke kota kemudian berjualan
di pasar sore (Pasar Dembe II,red),” ungkap Daeng. Di pasar Dembe II,
Daeng yang berjualan ayam potong dan telur bertemu dengan Tetin yang
juga berjualan kue. Awalnya, antara Daeng dan Tetin hanya saling tegur
sapa sebagai sesama pedagang. Lama-lama kelamaan keduanya makin akrab.
Pengakuan Daeng, ketika hubungan dirinya
dan Tetin makin terjalin erat, dirinya mulai merasa tak nyaman. Tetin,
kata Daeng, mulai mendesak untuk dinikahi. Namun yang membuat Daeng
kalap mata ketika desakan itu tak hanya ditujukan kepada dirinya saja,
tetapi juga kepada sang istri.
“Istri saya sering di sms pak, dia
(Korban,red) meminta saya untuk segera menikahinya,” tegasnya. Puncaknya
menurut Daeng terjadi sehari sebelum kejadian. Saat itu korban
mengirimkan SMS ke handphone milik istri Daeng.
SUMBER BACAAN : http://hargo.co.id/berita/simak-curhat-si-pembacok-yang-cintanya-ditolak-saya-benar-benar-khilaf.html
SUMBER BACAAN : http://hargo.co.id/berita/simak-curhat-si-pembacok-yang-cintanya-ditolak-saya-benar-benar-khilaf.html

No comments:
Post a Comment