Tiga hari sebelum di copot Mendiknas oleh Presiden Jokowi, Anis Bswedan bersama Wapres Jusuf Kalla menghadiri Jumbara PMR Tingkat Nasional di Pangkep Sulsel 2016 .Tak memerlukan waktu lama beberapa Parpol mencalonkannya untuk bertarung menjadi Punggawa di DKI. Pada Putran I Anies berada di Perangkat II 2016 dan berdasarkan Quick count Pilkada Jakarta 2017 putaran kedua sedang berlangsung
Beberapa lembaga survei yang menyelenggarakan quick count sudah merilis persentase perolehan masing-masing calon dengan suara yang masuk sudah hampir 90% untuk kemenangan 58% Anies-Sandi sementara Ahok-Djarot hanya mengantongi 42% suara (vesi Litbang Kompas)
Di TPS tempat saya menyalurkan hak demokrasi, TPS 064 Kel. Lagoa Kec. Koja Jakarta Utara, Anies-Sandi menang cukup telak dengan 274 suara. Ahok-Djarot memperoleh 159 suara sementara yang tidak sah 5 suara.Tidak terlalu mengejutkan karena pada putaran pertama Anies-Sandi juga memimpin mengungguli Ahok-Djarot di tempat kedua dan Agus-Silvi di posisi buncit.
Kekalahan Buat Ahok-Djarot?
Hasil sementara memang mengunggulkan Anies-Sandi. Ahok-Djarot seperti kesulitan mengejar perolehan suara Anies-Sandi. Beberapa hasil quick count yang dirilis oleh beberpa lembaga survei hampir sama, Anies-Sandi sepertinya akan memenangkan pertarungan pamungkas di ibukota.
Ahok-Djarot akan tumbang dan Anies-Sandi bisa segera merayakan kemenangannya jika suara yang masuk masih dikisaran 80 persen, apalagi tidak ada lonjakan yang signifikan dari Ahok-Djarot untuk bisa menyalip Anies-Sandi.
Hargai Hasil Dari Proses Demokrasi
Well, itulah realitanya. Jakarta pada Oktober 2017 nanti sepertinya akan punya gubernur dan wakil gubernur baru. Hasil dari quick count biasanya tidak akan berbeda jauh dengan hasil resmi dari KPU apalagi selisihnya lumayan jauh.
Sebagai warga negara yang baik, saya wajib untuk menghormati hasil dari sebuah pesta demokrasi. Selayaknya kompetisi, pertarungan, duel atau apapun namanya pasti akan menghadirkan pihak yang menang dan di sisi lainnya ada pihak yang kalah.
SARA dan Kasus Dugaan Penistaan Agama Menjadi Faktor Kekalahan Ahok-Djarot
Tingkat kepuasan publik sebesar 70% yang jadi modal buat Ahok-Djarot ternyata tidak bisa mengangkat suara Ahok-Djarot di putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2017.
Berbagai program pro rakyat yang selama ini sudah dijalankan oleh Ahok-Djarot juga setali tiga uang tidak bisa membuat Ahok-Djarot unggul. Warga Jakarta menginginkan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta yang baru untuk lima tahun ke depan.
Saya menduga faktor agama dan ras serta sisi primordial lainnya yang terus-menerus digunakan sebagai senjata untuk menghancurkan Ahok adalah penyebabnya. Publikpun masih banyak yang percaya bahwa Ahok-Djarot melakukan penistaan terhadap agama. Jangan lupa berbagai spanduk provokatif, ceramah intimidasi dan hal lainnya menyangkut larangan memilih gubernur kafir sukses menghantam dengan telak Ahok-Djarot di putaran kedua ini.
Kesimpulannya warga Jakarta tidak berpatokan kepada program. Program Ahok-Djarot yang sudah pro rakyat sepertinya tidak menarik mereka. Mereka lebih memilih gubernur muslim dibandingkan gubernur yang sudah teruji selama ini. Simpel saja untuk membuktikannya, dengan 70% tingkat kepuasan yang dikantongi, Ahok-Djarot seharusnya bisa memenangkan pertarungan Pilkada DKI Jakarta dengan mudah.
Ahok-Djarot Tetap Sebagai Pemenang
Walaupun kalah bagi saya warga Jakrta, Ahok-Djarot adalah pemenang. Sedih pasti, terlalu banyak drama yang saya lalui selama mendukung paslon ini. Rusaknya hubungan dengan saudara dan beberapa pertemanan yang hancur hanya karena berbeda pilihan, cap munafik dan pendukung kafir anti Islam dan seabrek tuduhan lainnya telah mereka sematkan.
Saya ingin membuktikan bahwa Ahok-Djarot yang pantas memimpin Jakarta untuk lima tahun mendatang tanpa peduli akan cibiran yang datang. Bagi saya kemenangan Ahok-Djarot membawa demokrasi di Indonesia menjadi lebih baik ketika kaum minoritas yang telah terbukti anti korupsi, tegas dan adil bisa terpilih dengan suara terbanyak.
Kalau toh pada akhirnya Ahok-Djarot kalah bagi saya no problem. Saya mendukung dan membela apa yang menurut saya benar. Jakarta berubah menjadi lebih baik di bawah kepemimpinan Jokowi-Ahok lalu diteruskan oleh Ahok-Djarot, itu fakta. Saya tetap kukuh karena Ahok-Djarot juga menawarkan keberagaman, menjunjung tinggi kebhinekaan. Ahok-Djarot bagi saya sudah menerapkan standar tinggi bagi penerusnya kelak bagaimana cara membenahi Jakarta dan menghasilkan tingkat kepuasan kepada publik yang tinggi.
Anies-Sandi boleh memenangi Pilkada Jakarta, tapi bagi saya Ahok-Djarot tetap menang di hati saya dan keluarga. Terima kasih untuk semua pengabdian kalian selama ini untuk wargaJakarta dan menjadikan Jakarta jauh lebih baik dari sebelumnya. Dan mulai hari ini saya siap berdiri di barisan oposisi untuk mengkritisi semua program yang tidak sesuai dengan program yang ditawarkan pada waktu kampanye.
No comments:
Post a Comment